REPUBLIKA

Rep: Dian Erika Nugraheny/ Red: Esthi Maharani

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen), Hammid Muhammad, mengatakan pemberlakuan Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 bertujuan meningkatkan mutu sekolah. Sekolah dapat lebih mengembangkan diri dan tidak hanya bergantung kepada Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

"Harapannya sekolah bisa lebih maju dengan adanya aturan ini. Sekolah jangan hanya menggantungkan diri kepada BOS yang tidak seberapa," ujar Hammid kepada Republika di Kantor Kemenko PMK, Senin (16/1).

Dia melanjutkan Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016 menekankan kepada peran komite sekolah. Pihaknya menegaskan aturan itu mengatur tentang sumbangan pendidikan melalui komite sekolah.

"Jadi itu bukan pungutan," tutur dia.

Hammid menjelaskan peraturan juga tidak menitikberatkan untuk meminta sumbangan kepada orangtua. Namun, sumbangan pendidikan bisa berasal dari alumni, CSR atau orang-orang yang peduli terhadap sekolah. (Republika)



Dear, kawan-kawan…



Yang malas menulis atau tidak. Saya juga lagi malas menulis dan terkadang kesel pada diri sendiri, he… he… he….

Yang senang membaca atau tidak. Tapi saya.... Rahasia akh...
Tapi ini testimoni saya tentang menulis:

Menulis itu seperti pulang ke rumah. Tempat kita mencurahkan segala isi hati. Merasa nyaman setelah unek-unek kita ada yang mendengar. Di rumah: orangtua, istri atau anak kita mendengarkan. Saat kita menulis, orang membacanya. 


Menulis itu seperti pulang ke rumah. Tempat kita mandi sepuasnya. Tak ada yang mengusik. Apalagi mengetok-ngetok pintu kalau di luar ada yang kebelet, he… he… he.... Itu kalau di rumah kita punya lebih dari satu kamar mandi yooo?! Saat kita menulis, kita bisa bermandikan kata sepuasnya. Tak ada yang interupsi. Tapi hati-hati kalau ada yang kebelet dengan tulisan kita.

Menulis itu seperti pulang ke rumah. Tempat kita berkumpul dan bersenda gurau. Di pegang kepala bukannya marah, tapi senang. Dekat. Saat menulis, kita bisa dekat dengan siapapun. Bedanya dikit, jangan coba-coba pegang kepala orang dalam tulisan kita, he… he… he….

Menulis itu seperti pulang ke rumah. Tempat kita bisa tidur dengan nyenyak. Bermimpi. Saat kita menulis, kita bisa berimajinasi. Pergi, berkendara, bergaul dan makan apa saja yang di dunia nyata belum bisa kita raih. 

Menulis itu seperti pulang ke rumah. Tempat kita bisa merasa senang, berempati dan susah dengan sebenar-benarnya. Senang melihat anak-anak kita ceria. Susah kalau mereka sakit. Mungkin karena peng tubiet kali ya…. Akh, tidak.

Bukan rumah kalau tidak seperti itu. Bukan menulis namanya jika tak merasakan demikian.
Rumah adalah media. Media adalah rumah.

Kadang kita, saya, anda dan kita juga berkumpul. Membuat media. Membuat replika rumah.
Saya, anda dan kita semua tetap saling membutuhkan. Bilapun belum menjadi rumah seutuhnya. Tapi ia telah membentuk replika rumah. 

Jadi, mengapa juga saya dan mungkin anda jadi malsa (?:malas) menulis sekarang ya...?!


Ramli Alba tak mengedipkan matanya
sekalipun. Saya dan beberapa warga yang menemami kami sore itu di sebuah warung kopi di Simpang Kuala Jeumpa, termasuk Keuchik Nurhadi M Yacob menyimaknya serius. Ikut terbawa dengan mimik Ramli Alba.

“Kami baru mengenal Kerajaan Jeumpa saat mahasiswa dari Banda Aceh KKN (Kuliah Kerja Nyata) di sini tahun 1990. Itupun hanya sekilas dan kemudian jarang dibicarakan lagi.” Ramli Alba adalah kepala Dusun Meureudom Ratna di Gampong Kuala Jeumpa.

Saat itu, para mahasiswa bertanya kepada warga tentang sejarah Kerajaan Jeumpa dan makam Permaisuri Meureudom Ratna. “Tapi tak ada warga yang mampu mejelaskannya,” ujar dia.

Ya, Meureudom Ratna adalah Permaisuri dari Raja Jeumpa. Makamnya memang berada di Kuala Jeumpa. Tepatnya di Dusun Meureudom Ratna. Sedangkan makam dari Raja Jeumpa sendiri berada di Blang Seupeueng. (baca: Menggali Artefak Kerajaam Jeumpa di Blang Seupeueng, Tabloid Trang edisi Januari 2013).

Sejarah Kerajaan Jeumpa memang sempat tertutup saat Aceh dilanda konflik dulu. Tapi berkah damai pasca MoU Helsinki kini telah dirasakan oleh segenap masyarakat Aceh. Begitu pula dengan sejarah yang dulu sempat tertutup tirai, telah tersibak kembali.

Setelah Aceh damai, sejarah Kerajaan Jeumpa antara lain banyak diketahui berdasarkan penuturan Muhammad Daud M Thaib (72), tokoh masyarakat Blang Seupeueng yang juga sempat diwawancarai Tabloid Trang pada edisi sebelumnya. Daud adalah keturunan Keujruen Sarah yang diyakini mempunyai hubungan darah dengan Raja Jeumpa.

Tak susah untuk mencapai Kuala Jeumpa. Meski berada di kawasan pesisir pantai, arah Selatan dari gampong (desa) ini juga berbatasan langsung dengan Jalan Negara Banda Aceh-Medan. Ia berada di kilometer 4 arah Kota Bireuen, pusat ibukota kabupaten. Kita hanya perlu berjalan 150 meter dari jalan negara (Simpang Kuala Jeumpa) untuk mencapai makam Meureudom Ratna yang terletak di tengah-tengah perkuburan umum milik warga.

Makam Mureudom Ratna sendiri kini telah dipugar dengan sumber dana APBA/Otsus senilai Rp107,78 juta. Berdasarkan data yang diperoleh tim ekspedisi Tabloid Trang, makam yang pemugarannya dilakukan 28 Mei 2012 itu memiliki volume 46 meter persegi, dengan konstruksi beton dan terali besi di atasnya.

Namun, cerita dari masyarakat Kuala Jeumpa menyebutkan, sebenarnya, sebelum dipugar, telah ada pondasi yang mengelilingi makam Meureudom Ratna. “Seingat kami pondasi itu telah lama ada. Tapi kami tidak tau kapan dan siapa yang membangunnya,” timpal Suardi, kepala Dusun Tokoh Madsyam. Usia Suardi sendiri bila ditaksir sudah berkepala lima.

Lalu apakah pondasi yang telah ada sebelumnya berbentuk batu pualam atau sejenisnya yang menggambarkan masa kejayaan Kerajaan Jeumpa? “Itu seperti batu-batu cetak,” sebut Suardi. Hal inipun ikut dibenarkan Ramli Alba yang juga seumuran dengannya. Saat kami berziarah ke sana, juga tak lagi terlihat pondasi tersebut.

Makam Meureudom Ratna hanya ditandai dengan dua batu nisan biasa, dengan kain putih dibagian nisan kepala. Ilalang dan rerumputan tumbuh di atasnya. Sebuah pohon tua besar juga menandai makam tersebut. 
Dalam ekspedisi Tabloid Trang sebelumnya yang menelusuri jejak Kerajaan Jeumpa di Blang Sepeueng, sebuah rekam sejarah kami lihat tertulis dalam bingkai yang rapi di meunasah setempat. Mengingat kembali tulisan pada edisi sebelumnya yang berjudul: Saat Pemuda Cirebon Melafazkan Iyya Ka Na’budu…. Berikut kami kutip beberapa hal yang berkaitan dengan Meureudom Ratna dan Kuala Jeumpa:

Kabupaten Bireuen dalam catatan sejarah dikenal sebagai daerah Jeumpa. Dahulu Jeumpa merupakan sebuah kerajaan kecil di Aceh, terletak di Desa Blang Seupeueng, merupakan permukiman padat penduduk dengan Bandar Pelabuhan Besar yang terletak di Kuala Jeumpa.

Pada awal tahun 1989 dua pemuda Cina, laki – laki dan perempuan mengunjungi makan Raja Jeumpa, kepada sesepuh desa mereka mengatakan berasal dari Indo Cina, Kamboja. Mereka sengaja datang ke lokasi Kerajaan Jeumpa untuk mencari tongkat nenek moyangnya zaman dahulu. Konon tongkat emas Raja Cina tersebut jatuh dan hilang saat menyerbu kerajaan Jeumpa, yang kemudian ditemukan oleh Raja Jeumpa.

Kerajaan Jeumpa pernah diperangi oleh pasukan Cina, Thailand dan Kamboja. Mereka pernah menduduki benteng Blang Seupeueng. Disebutkan, peperangan tersebut terjadi karena Raja Cina menculik permaisuri Raja Jeumpa yang cantik jelita, Meureudom Ratna. 

Permaisuri Raja Jeumpa itu berhasil mereka bawa kabur sampai ke Pahang (Malaysia). Namun kemudian Meureudom Ratna berhasil dibawa kembali ke Blang Seupeueng. Setelah Panglima Prang Raja Kera yang berasal dari Ulee Kareung, Samalanga berhasil mengalahkan Raja Cina.

Sejatinya, jarak antara Blang Seupeueng dengan Kuala Jeumpa tidaklah terlalu jauh. Bila kemudian diketahui Kuala Jeumpa merupakan Bandar Pelabuhan Besar dari Kerajaan Jeumpa, rasanya tak mengherankan bila kemudian nisan dari Meureudom Ratna, permaisuri Raja Jeumpa di temukan di sana.

Hal itupula yang diyakini Keuchik Kuala Jeumpa, Nurhadi M Yacob. “Sebagai warga kami bangga dengan situs sejarah ini. Karenanya kami melestarikannya. Tapi kami juga butuh perhatian pemerintah agar tempat ini menjadi kawasan wisata religi yang dapat dibanggakan masyarakat Aceh.” (mardani malemi)

Kebahagian hidup tidak melulu berbicara soal hal-hal yang tampak secara kasat mata (realita). Tapi ada hal-hal yang tidak kasat mata (abstrak) dan itu terkait dengan nilai kehidupan sehari-hari. Hubungan manusia dengan Tuhanynya (Allah SWT) dan hubungan antar manusia. Senyum dan barisan yang rapat diantara santri Dayah MUDI Masjid Raya Samalangan, Bireuen, Aceh adalah buktinya. REPRO: M. Malemi




“Maaf Teungku, arah ke gampong tempat makamnya Habib Bugak Al-‘Asyi ke mana ya?” Pemuda berumur sekitar 40-an yang kami tanyai itu sedikit bingung. 

Bertanya ke sesamanya yang sama-sama sedang asyik menyerumput kopi. Hari itu, Sabtu (13/10/2013) sekitar pukul 16.00 Wib, kami baru sekitar 100 meter melintasi Gapura bertuliskan, “Kawasan Minopolitan.”  Perjalanan hari itu adalah dalam rangka ekspedisi memenuhi kebutuhan tulisan untuk Tabloid Trang.

“Pante Peusangan.” Kami mencoba untuk menyebut nama gampongnya (desa)

“Ooo! Kalau begitu adik-adik ini harus berbalik arah kembali. Nanti belok saja ke arah kanan dekat gapura.” 

Saat itu kami memasuki wilayah Jangka melalui pusat kota Matangglumpangdua. Untuk sampai ke Pante Peusangan dari tempat kami bertanya, kami hanya harus menempuh jarak sekitar 2 kilometer lagi. Kami pun harus sedikit hati-hati saat melintasi jalan utama gampong karena beberapa ruas jalan telah berlobang.   

Habib Bugak Al-‘Asyi sebenarnya kian terkenal sejak para jamaah haji asal Aceh setiap tahun mendapatkan uang dari Baitul Asyi sekitar Rp2.500.000 setiap jamaahnya. Terlepas dari perdebatan soal silsilah dan siapa sebenarnya Habib Bugak Al-‘Asyi, pengalaman kami di atas setidaknya sedikit memberi gambaran bahwa Habib Bugak Al-Asyi ternyata masih kurang dikenal oleh masyarakat Aceh secara umum. Kecuali oleh mereka yang pernah berhaji ke Mekkah atau mereka-mereka yang peduli dengan sejarah Aceh.  

Nama Habib Bugak Al-Asyi sendiri baru terasa akrab di telinga masyarakat saat kami memasuki wilayah Pante Peusangan, Jangka. Hal itu tercermin saat kami berdialog dengan Keuchik Ridwan Muhammad. Kami pun kemudian sempat difasilitasi untuk bertemu dengan sesepuh gampong Said Zainal Abidin yang berusia sekitar 112 tahun. Warga sekitar memanggilnya Habib Zainon. Kami sempat berbincang sejenak dengannya. Habib Zainon juga bercerita siapa Habib Bugak Al-Asyi yang ia yakini

Pasca dari rumah Habib Zainon, kami beranjak ke makam Habib Bugak Al-‘Asyi. Menurut keyakinan Habib Zainon, di makam yang telah dipugar dengan beton setinggi dagu orang dewasa itu terdapat tiga pusara: Habib Abdurrahman, Habib Muhammad, dan Habib Hasan. 


Untuk mencapai makam, kami harus melintasi jalan setapak. Tetumbuhan ilalang juga tampak mengelilingi makam yang berada di Dusun Pante Sidom Gampong Pante Peusangan Kemukiman Bugak itu. Kami baru beranjak pulang setelah memanjatkan doa dan membaca beberapa ayat suci Al-Quran. Sekaligus mengabadikan beberapa foto.  

***

Gampong Pante Peusangan memiliki luas wilayah 75 hektar. Sekitar 35 hektar di antaranya adalam area persawahan yang telah didukung dengan sarana irigasi. Penduduknya sendiri kini mencapai 470 jiwa: 231 laki-laki dan 239 perempuan yang terhimpun dalam 102 kepala keluarga (KK). Sebanyak 320 jiwa atau 68 KK berada di bawah garis kemiskinan.
 
Untuk mencapai ke Pante Peusangan, kita harus menempuh perjalanan sekitar 9 kilometer dari pusat Kota Matangglumpangdua atau 19 kilometer dari pusat Kota Bireuen. Sekilas tidak ada yang istimewa dari Pante Peusangan

Nuansa bahwa di gampong tersebut terdapat makam Habib Bugak Al-‘Asyi juga belum nampak sama sekali. Tidak ada arah petunjuk apapun untuk mencapai makam maupun pernak-pernik lainnya yang memberi nuansa khas bahwa di Pante Peusangan lah benar adanya pusara seorang ulama pewakaf Baitul ‘Asyi.  

Aktivitas sehari-hari masyarakat pun terlihat jauh dari hiruk pikuk.  Sekretaris Gampong Pante Peusangan, Sudirman mengatakan, umumnya masyarakat Pante Peusangan bermata pencaharian sebagai petani. Hanya sebagian kecil yang bekerja di instansi pemerintahan dan wiraswasta. 

“Kalau pemuda di sini juga membuka lahan cabe,” tutur Sudirman. “Luasnya kira-kira 5 hektar.”
Soal pendidikan, Sudirman mengakui bahwa antara tahun 2006-2010, banyak anak-anak usia sekolah yang tidak melanjutkan lagi pendidikannya. Anak-anak yang putus sekolah bervariasi. Mulai tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), hingga Sekolah Mengengah Atas (SMA). Tapi umumnya mereka tidak melanjutkan lagi sekolahnya saat telah lulus dari SMP. 

“Kalau saya malah tidak pernah mendapatkan ijazah SD.” Seorang remaja yang duduk di sekeliling kami ikut menimpali. Kalau diperhatikan usianya mungkin belum lebih dari 25 tahun. 

“Dulu masyarakat di sini dihadapkan pada persoalan, kalau anak-anak mereka sekolah, nafkah di rumah tidak mencukupi,” timpal Sudirman, kembali. 

“Tapi, sejak tahun 2011 hingga 2012 ini, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan telah tinggi. Untuk tahun 2012 ini sendiri tidak ada lagi anak-anak yang tidak sekolah.”   

“Apalagi jarak Pante Peusangan ke sekolah sangat terjangkau. Atau hanya sekitar 1 kilometer ke SMA Jangka dan 800 meter ke Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Jangka.”

Untuk memperkuat syiar Islam, di Gampong Pante Peusangan terdapat dua lembaga pendidikan Islam setingkat dayah, yaitu: Dayah Nurul Fata dan Dayah Bustanul Ulum. (mardani malemi) 

Artefak Kerajaan Jeumpa. 
Menilik sejarah dan asal usul Kabupaten Bireuen rasanya tidak akan membuat kita bosan. Meski beragam literatur telah disajikan. Memasuki usia ke-15, saya melihat tidak ada salahnya bila kita mengulang kaji kembali sejarah itu.
Mungkin diantara kita telah banyak membaca berbagai literatur akademis tentang Kerajaan Jeumpa yang sering disebut sebagai asal muasal kabupaten ini. Bireuen yang dulunya lebih dikenal dengan nama Jeumpa.
Tapi pada tulisan kali ini, penulis mengajak pembaca untuk melihat dan menjumpai langsung salah satu saksi sejarah yang disebut-sebut punya ikatan silsilah langsung dengan keturunan Raja Jeumpa.
Ia adalah Muhammad Daud M. Thaib (72) atau sering disapa Bang Ulee Cot. Sebutan itu karena tempat tinggalnya berada persis di pinggir bukit (bahasa Aceh: cot) dengan ketinggian sekitar 10 meter. Di atas bukit itu adalah tempat bersemayamnya jenazah Tgk. Cot Cibrek.  

Muhammad Daud kini mendiami rumah bantuan Pemerintah Aceh bertipe 36 plus. Bantuan yang layak diberikan untuk seorang di antara ahli waris Raja Jeumpa. Ya, menurut pengakuan Muhammad Daud, ia adalah keturunan ke-9 dari Raja Jeumpa. Kepada kami, ia hanya ingat empat urutan silsilah di atasnya, yaitu: ayahnya M Taib, kemudian di atasnya berturut-turut: Peutua Hanafiah, Keuchik Ben Cut, dan Keujruen Sarah. Keujruen Sarah inilah yang diyakini mempunyai hubungan darah dengan Raja Jeumpa. 

Ia juga sempat bercerita sedikit tentang sejarah Raja Jeumpa. Dalam ceritanya ia menyebutkan kisah di tahun di tahun 2006, setahun setelah perdamaian Aceh. Saat itu pemuda asal Cirebon datang menemuinya. Setelah menyatakan maksudnya, ia kemudian diantar ke makam Raja Jeumpa. Di sanalah ia melazkan ayat kelima dari Surah Al-Fatihah. 
Iyya ka na’budu wa iyya ka nasta’in. “Engkaulah yang kami sembah, dan Engkaulah tempat kami memohon pertolongan.“ (QS. 1 : 5). 
“Pemuda itu meyakini inilah ayat dari surah yang menyelamatkan Aceh dan kehidupan umat manusia,” tutur Muhammad Daud menirukan ucapan pemuda asal Cirebon kepadanya. “Kita bersaudara, tapi selama ini seakan begitu jauh. Pak Cik, pesan saya, kita harus mengamalkannya dengan ikhlas agar Aceh tetap damai.” 

Saya juga sempat mendatangi makam Raja Jeumpa di Dusun Tgk. Keujruen. Areal makam yang telah dipagari besi dengan pondasi beton berwarna orange itu sekilas terasa asing bagi yang belum terbiasa. Kami sendiri saat sampai di depan makam yang kini berupa bukit dengan ketinggian sekitar 30 meter itu juga merasakan hal demikian. Apalagi dengan pohon-pohon besar nan rindang berumur ratusan tahun yang tumbuh di atasnya. Makam Raja Jeumpa itu sendiri kini hanya bisa ditandai dengan batu-batu besar yang ada di bukit tersebut.
 
Dalam ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim Abduh –disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa— disebutkan, Kerajaan Islam Jeumpa sudah berdiri sejak sekitar abad ke-7 Masehi yang terletak di sekitar daerah perbukitan, mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur. 

Istana Raja Jeumpa terletak di Gampong Blang Seupeueng yang dipagari di sebelah utara. Itu artinya telah menempatkan Kerajaan Islam Jeumpa sebagai kerajaan Islam pertama di nusantara. Jauh sebelum Kerajaan Samudra Pasai berdiri. 

Namun, dalam catatan sejarah lainnya disebutkan, Kerajaan Islam Jeumpa baru berdiri sekitar abad ke-13, saat sebagian besar penduduk dan Raja Kerajaan Melayu Islam Champa di Vietnam bermigrasi ke Aceh karena diserang oleh Kerajaan China. 

Kedatangan Raja Champa pada waktu itu (abad ke-13) disambut dengan hangat oleh pihak Kerajaan Pasai. Atas izin Raja Pasai pula kemudian Raja Champa mendirikan Kerajaan Jeumpa. 

Dalam riwayat Raja Jeumpa (Sejarah Kegemilangan, Kemakmuran dan Kemajuan Kerajaan Jeumpa 14 Abad Silam) yang terpampang di dinding di dalam meunasah Blang Seupeng ditulis: Kabupaten Bireuen dalam catatan sejarah dikenal sebagai daerah Jeumpa. Dahulu Jeumpa merupakan sebuah kerajaan kecil di Aceh, terletak di di Desa Blang Seupeung, merupakan permukiman padat penduduk dengan Bandar Pelabuhan Besar yang terletak di Kuala Jeumpa. 

Pada awal tahun 1989 dua pemuda Cina, laki – laki dan perempuan mengunjungi makan Raja Jeumpa, kepada sesepuh desa mereka mengatakan berasal dari Indo Cina, Kamboja. Mereka sengaja datang ke lokasi kerajaan Jeumpa untuk mencari tongkat nenek moyangnya zaman dahulu. Konon tongkat emas Raja Cina tersebut jatuh dan hilang saat menyerbu kerajaan Jeumpa, yang kemudian ditemukan oleh Raja Jeumpa.

Kerajaan Jeumpa pernah diperangi oleh pasukan Cina, Thailand dan Kamboja. Mereka pernah menduduki benteng Blang Seupeueng. Disebutkan, peperangan tersebut terjadi karena Raja Cina menculik permaisuri Raja Jeumpa yang cantik jelita, Meureudom Ratna.

Permaisuri Raja Jeumpa itu berhasil mereka bawa kabur sampai ke Pahang (Malaysia). Namun kemudian Meureudoem Ratna berhasil dibawa kembali ke Blang Seupeueng. Setelah Panglima Prang Raja Kera yang berasal dari Ulee Kareung, Samalanga berhasil mengalahkan Raja Cina.

Makam Raja tersebut hanya ditandai dengan batu-batu besar yang berlokasi di dusun Tgk Keujruen, Desa Blang Seupeueng. Sedangkan makam isterinya, Maureudom Ratna, berada di Desa Kuala Jeumpa.

Raja Jeumpa adalah putra dari Abdullah dan Ratna Kumala, beliau dinobatkan menjadi Raja dan Ratna Keumala sebagai permaisuri di Negeri Blang Seupeung tersebut. Raja Abdullah kemudian menamakan Negeri yang dipimpinnya itu dengan nama “Jeumpa” sesuai dengan nama Negeri asalnya yang bernama “Kampia”, yang artinya harum.

Raja Abdullah mengatur strategi keamanan Kerajaan dengan mengadakan latihan perang bagi angkatan darat dan laut. Saat itu angkatan laut merupakan angkatan perang yang cukup diandalkan, yang dipimpin oleh seorang Laksamana Muda.

Raja Abdullah meninggal dunia dengan meninggalkan seorang istri dan dua orang anak, yaitu Siti Geulima dan Raja Jeumpa. Setelah Raja Jeumpa dewasa dia membangun benteng pertahanan di tepi Pantai Laksamana. Raja Jeumpa kemudian memperistri seorang putri anak Raja Muda yang Cantik Jelita bernama Meureundom Ratna dari Negeri Indra. Menurut catatan sejarah, Meureudom Ratna masih ada hubungan keluarga dengan Putri Bungsu.

Kakak Raja Jeumpa, Siti Geulima dipinang oleh seorang Raja di Darul Aman yang bernama Raja Bujang. Maka atas dasar perkawinan itu antara Kerajaan Jeumpa dengan Darul Aman  terjalin hubungan lebih erat. Sesuai dengan namanya “Darul Aman” yakni negeri yang aman sentosa.

Abad ke-13
Muhammad Daud meyakini Kerajaan Jeumpa berdiri pada abad ke-13. Hal itupula yang kami lihat di papan yang terpangpang di dalam meunasah Gampong Blang Seupeung. 

Sebenarnya, menurut pengakuan Muhammad Daud, keluarga mereka memiliki arakata Kerajaan Jeumpa. Arakata yang ditulis dalam huruf jawi itu mulanya disimpan oleh saudara Muhammad Daud, Imum Syik Muhammad Saleh. Namun, hilang saat konflik Aceh. “Ia (Imum Syik Muhammad Saleh, Red) adalah mantan aktivis GAM,” ujarnya. 

Pembicaraan kami kemudian berlanjut pada sisa-sisa artefak (penginggalan sejarah) yang mungkin masih tersisa dari Kerajaan Jeumpa. Ditemani isteri dan cucunya, Muhammad Daud kemudian bercerita tentang beberapa temuan saat salah satu bukit di sisi rumah mereka menetap sekarang di keruk dengan alat berat. 

“Ada pecahan kaca yang mungkin adalah piring atau peralatan/hiasan lainnya,” ujar Muhammad Daud. Saat diperlihatkan oleh isterinya kepada kami, sekilas benda berwarna putih bening sebesar telapak tangan orang dewasa itu berbentuk batu. Tapi, kalau sudah dipegang, sangat terasa ketajamannya. Benda itu sendiri kini memang tak benbentuk lagi. Ia layaknya bongkahan biasa.   

Muhammad Daud pun tak mempersoalkan bila ada yang mengatakan itu adalah bongkahan batu biasa. Namun, ia tetap meyakini bahwa itu adalah bukti bahwa Blang Seupeung dulunya adalah pusat (bandar) Kerajaan Jeumpa dengan penduduknya yang sangat padat. 

Ia menyebut, benda-benda seperti itu banyak ditemukan saat pengerukan bukit. Namun, karena minimnya pemahaman warga akan sejarah nenek moyangnya dulu, membuat benda-benda seperti itu dibiarkan begitu saja. “Malah kami juga menemukan karung-karung beras yang sudah hitam,” pungkasnya. “Tapi, nasibnya juga sama.” 

Hasil observasi dari peneliti lain sebelumnya malah telah menemukan beragam artefak lainnya, seperti kolam mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang tangan. Artefak itu ditemukan di dekat makam Raja Jeumpa.

Dasar Hukum
Berdasarkan data dari www.kemendagri.go.id disebutkan, Kabupaten Bireuen terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 48 Tahun 1999 dan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 48 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Simeulue (Lembar Negara Tahun2000 Nomor 75, Tambahan Lembar Negara Nomor 3963). 

Kabupaten ini memiliki Luas wilayah 1.901,21 Km2. Pada Tahun 2006, secara administratif Kabupaten Bireuen ini terdiri dari 17 Kecamatan , 70 Mukim serta 559 Desa dan 2 Kelurahan. Jumlah penduduk pada Tahun 2006 sebanyak 354.763 jiwa yang terdiri dari 174.258 laki-laki dan 180.505 perempuan dengan rasio jenis kelamin sebesar 0,97 atau dengan kata lain pada setiap seratus penduduk perempuan terdapat 97 orang.

Rata-rata kepadatan penduduk untuk setiap kilometer persegi adalah 187 jiwa. Kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk yang terendah adalah Pandrah 83 jiwa perkilometer persegi sedangkan kepadatan yang tertinggi terdapat di Kecamatan Peusangan yang mencapai 43.625 jiwa perkilometer persegi dan hampir seluruh penduduk Kabupaten Bireuen beragama Islam yakni mencapai 99,58 persen.

Asal Muasal Nama

[pullquote_left]Bireuen itu berasal dari Bahasa Arab yaitu asal katanya Birrun, artinya kebajikan, dan yang memberikan nama itu juga orang Arab pada saat Belanda masih berada di Aceh[/pullquote_left]

Beragam asal usul nama Bireuen memang pernah diungkapkan oleh berbagai tokoh. Namun, Tgk. Sarong yang pernah menjadi komandan pertempuran Medan Area tahun 1946, yang saat itu diberi gelar Kowera (Komandan Perang Medan Area) sebagaimana ditulis di Narit yang dipost ulang di seputaraceh.com mengungkapkan, Bireuen itu berasal dari Bahasa Arab yaitu asal katanya Birrun, artinya kebajikan, dan yang memberikan nama itu juga orang Arab pada saat Belanda masih berada di Aceh.

Kala itu, orang Arab yang berada di Aceh mengadakan kenduri di Meuligoe Bupati sekarang. Saat itu, orang Arab pindahan dari Desa Pante Gajah, Peusangan, lalu mereka mengadakan kenduri. Kenduri itu merupakan kebajikan saat menjamu pasukan Belanda. Orang Arab menyebut kenduri itu Birrun. Sejak saat itulah nama Bireuen mulai dikenal.


Tgk. Sarong juga mengungkapkan, sebelum Bireuen jadi nama Kota Bireuen yang sekarang ini, dulu namanya Cot Hagu. Setelah peristiwa itulah, nama Cot Hagu menjadi nama Bireuen. Wallahua’lam bissawab. (*)

Bunker peninggalan Jepang. 
Malam itu tahun 1983. Tanggal dan hari yang tidak diingat lagi oleh Jufri Husein, 56, warga Bireuen Meunasah Dayah, Kota Juang, Kabupaten Bireuen. Jufri bermimpi tentang ranjang emas di dalam sebuah kolam. 

Rasa penasaran tak bisa disembunyikannya. Ia lalu bertanya kepada warga sekitar apakah ada sejenis bunker (orang Aceh menyebutnya: kurok-kurok) di sekitar kampung. Jufri bukanlah warga asli Bireuen Meunasah Dayah. Ia asli Pandrah. Sebuah kecamatan di ujung Barat kabupaten yang sama. Ia baru saja menetap di sana.

Informasi tentang sebuah bunker yang pernah dijadikan tempat persembunyian Jepang kemudian diperoleh Jufri. Tapi selama itu belum ada yang berani turun ke sana.

“Hewan ternak yang tersesat ke sana saja tidak pernah kembali lagi,” kata Jufri kepada tim ekspedisi Tabloid Trang suatu sore di bulan Mei 2013. Pernyataan Jufri itu mengutip kata-kata orang tua kampung.

Tapi ia kemudian memberanikan diri juga untuk turun ke sana. Mengajak dua pemuda kampung. “Ada banyak kelelawar saat pertama kali kami turun ke bunker,” ujarnya. “Alhamdulillah kami selamat.”  

Bunker itu sejatinya berada di pinggir jurang sebelah Barat sirkuit Cot Gon Bhan yang berada di atas bukit berkarang. Sekitar 2 kilometer (Km) dari Simpang Meunasah Blang (atau: simpang depan SPBU Reuleut).

Tapi adakah ranjang emas seperti di mimpinya? “Kami menemukan empat mortil. Tidak ada ranjang emas.”

Mortil itu kemudian coba diledakkan oleh Jufri di bawah tumpukan jerami. Ia dan dua pemuda kampung kemudian bersembunyi di balik pematang sawah untuk menghindari ledakan. Tapi api yang membakar jerami ternyata tak membuat mortil meledak. “Ternyata hulu ledak yang diduga peninggalan Jepang itu tak lagi aktif,” sebut Jufri.

Bunker itu berawal pada masa penjajahan Jepang, saat kerja Romusa diterapkan. Berdasarkan penuturan orang-orang zaman dulu, Jepang sengaja mendatangkan orang-orang luar Aceh (sebagian menyebutnya asal Jawa) untuk membuat bunker tersebut.

“Itu karena Jepang tak bisa sepenuhnya menaklukkan Aceh. Muncul kegalauan karena tak tau lagi cara bersembunyi yang aman.”

“Orang Aceh tetap tak bisa ditaklukkan, walau sekalipun seluruh pakaian dilucuti hingga harus menjadikan goni sebagai bahan pakaian,” ujarnya.

Goretan-goretan pahat jelas terlihat pada dinding-dinding bunker. Menandakan bahwa bunker tersebut bukanlah terbentuk secara alami. Melainkan hasil buatan manusia. Guratan pahatpun terlihat berbeda-beda. Ada yang sepertinya memakai pahat ukuran besar dan ada pula yang kecil.

Menurut penuturan Jufri, ada lima mulut bunker di bawah lapangan yang sekarang bernama Cot Gon Bhan itu. Tanah yang kini juga telah menjadi hak milik seorang warga Bireuen. Yang spesial, kata Jufri dan tim ekspedisi Tabloid Trang adalah bunker pertama. Panjangnya ditaksir mencapai 300 meter dengan tiga lorong yang dimilikinya. Lebar lorong-lorong itu sekitar 1 meter dengan ketinggian tak mencapai 170 meter. Tim ekspedisi Trang saja sampai harus sedikit membungkukkan tubuhnya saat memasuki bunker itu. Sementara tiga kamar yang berada di tiap lorong berukuran 3x3 meter.

“Ini tempat persembunyian paling aman pada masanya,” tutur Jufri.

Penuturan Jufri cukup masuk akal karena bunker itu berada di bawah bukit dengan tekstur tanah di atasnya yang berupa karang cukup keras. Hingga akar-akar pohon besar saja tak cukup kuat untuk menembusinya. 

“Jadi bila ditembak dari arah mana saja oleh musuh tak mungkin bisa mencapai sasaran.”

Cerita lain ikut berkembang dalam obrolan kami sore itu di sebuah warung kopi. “Dulu sempat tersiar kabar kalau maling hewan ternak sering menyembunyikan hasil curiannya di sini.”

Kabar itupun bisa saja benar. Tim ekspedisi Tabloid Trang sempat melihat tengkorak hewan ternak di sekitar bunker. Begitu pula dengan sebuah kasur yang masih tergeletak begitu saja di dalamnya. Terapung di atas air. Kasur itu bisa dipastikan bukan peninggalan Jepang. Melainkan sebuah kasur dengan jenis spring bed tipis 3 kaki.

Cerita dan pengalaman orang tentu saja boleh berkembang soal bunker tersebut.

“Yang perlu dipahami bahwa ini adalah sejarah. Orang luar (asing) malah membuat sejarah dari tidak ada menjadi ada.” Abu Ryan Djuli, seorang pekerja seni dan budaya asal Bireuen yang ikut dalam ekspedisi besama kami hari itu, ikut menimpali.

“Pemerintah saja tentu sulit. Hanya mengandalkan kepedulian masyarakat pun susah. Di sinilah peran bersama dibutuhkan. Pemerintah dan masyarakat.”   

Kalimat itu seperti mewakili kegelisahannya terhadap banyak situs sejarah yang masih kurang mendapat perhatian kita bersama. (*)


Apa kata Said Zainal Abidin yang kami temui di Gampong Pante Peusangan? Berikut kutipan wawancaranya (wawancara berlangsung dalam bahasa Aceh):

Siapa Habib Bugak menurut Habib Zainon?
Habib Bugak adalah Habib Muhammad. Beliau berasal dari tanah Arab. Datang kemari tujuannya untuk berdagang.Lama kelamaan menetap di sini dan akhirnya menikahi seorang wanita. Juga di isini. Pernah suatu saat setelah menikah beliau kembali ke Arab untuk mewakafkan tanahnya di sana. Kemudian kembali lagi kemari.

Habib masih ingat dengan siapa Habib Muhammad menikah?
Habib Muhammad menikah dengan Cut Bungsu dan Cut Bunthok. Dari Cut Bungsu lahir Cut Syarifah Manyak, ibu saya. Cut Syarifah Manyak menikah dengan Habib Ali.Tapi Helmi (maksudnya: Hilmy Bakar)kemudian menulis bahwa Habib Bugak Al-‘Asyi itu adalah Habib Abdurrahman Monklayu. Padahal saat Habib Abdurrahman masih hidup beliau berharap seandainya kelak meninggal jenazahnya dapat disemayamkan di samping makam Habib Muhammad karena keduanya perantauan dari Arab.


Jadi tanah makam itu milik siapa?
Tanah itu milik Habib Muhammad yang dikhususkan penggunaanya untuk kuburan anak cucu beliau kelak.

Apa harapan Habib?
Dikamoe bahlagee nyo mantong. Menyo peng dari keunan rot hana payah keudeh. [Kami biar begini saja. Kalau uang dari itu (wakaf Habib Bugak) tidak usah]. Itukan sedekah jariah. Biarlah pahalanya terus mengalir kepada pewaqafnya.(mardani malemi/najib zakaria)
Diberdayakan oleh Blogger.