TEUNGKUMALEMI

Senyuman suatu pertanda...

KUROK-KUROK (BUNKER)

Bunker peninggalan Jepang di Cot Goh Ban Bireuen.

KAPAL PORTUGIS

Onggokan kapal yang diduga milik Portugis di Kuala Raja Bireuen.

NASKAH

Abu Tumin, ulama kharismatik Aceh memberi masukan atas naskah tulisan saya.

TU MUHYEN

Keturunan ketujuh dari Tgk. Syik Awe Geutah.

Habib Zainon (112 Th.): Habib Bugak adalah…



Habib Zainon

Apa kata Said Zainal Abidin yang kami temui di Gampong Pante Peusangan? Berikut kutipan wawancaranya (wawancara berlangsung dalam bahasa Aceh):

Siapa Habib Bugak menurut Habib Zainon?
Habib Bugak adalah Habib Muhammad. Beliau berasal dari tanah Arab. Datang kemari tujuannya untuk berdagang.Lama kelamaan menetap di sini dan akhirnya menikahi seorang wanita. Juga di isini. Pernah suatu saat setelah menikah beliau kembali ke Arab untuk mewakafkan tanahnya di sana. Kemudian kembali lagi kemari.

Habib masih ingat dengan siapa Habib Muhammad menikah?
Habib Muhammad menikah dengan Cut Bungsu dan Cut Bunthok. Dari Cut Bungsu lahir Cut Syarifah Manyak, ibu saya. Cut Syarifah Manyak menikah dengan Habib Ali.Tapi Helmi (maksudnya: Hilmy Bakar)kemudian menulis bahwa Habib Bugak Al-‘Asyi itu adalah Habib Abdurrahman Monklayu. Padahal saat Habib Abdurrahman masih hidup beliau berharap seandainya kelak meninggal jenazahnya dapat disemayamkan di samping makam Habib Muhammad karena keduanya perantauan dari Arab.

Habib Bugak Dalam Kajian Hilmy Bakar



Siapa sebenarnya Habib Bugak belum ada data otentik tentang itu dan masih menjadi kajian oleh beberapa pemerhati sejarah, meski Hilmy Bakar bersama Tim Red Crescent-nya telah melakukan serangkaian penelitian pada tahun 2007 dan menyajikan data-data sejarah secara ilmiah. 

Dalam tulisan yang dipublikasikannya, Hilmy memberi kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan Habib Bugak Al-‘Asyi adalah Habib Abdurrahman Bin Alwi Al-Habsyi. Hilmy menulis, “…Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi adalah seorang yang pertama membuka Bugak dan memiliki kedudukan terhormat sebagai wakil Sultan. Hal ini diperkuat  dokumen yang dikeluarkan Sultan Mansyur Syah bertahun 1270 H yang menyebutkan dengan terang nama Habib Abdurrahman dengan Bugak.”

Inilah Makam Pewakaf Baitul 'Asyi Jamaah Haji Aceh di Mekkah



Pusara Habib Bugak. Repro: Najib. Z/Trang


“Maaf Teungku, arah ke gampong tempat makamnya Habib Bugak Al-‘Asyi ke mana ya?” Pemuda berumur sekitar 40-an yang kami tanyai itu sedikit bingung. 

Bertanya ke sesamanya yang sama-sama sedang asyik menyerumput kopi. Hari itu, Sabtu (13/10/2013) sekitar pukul 16.00 Wib, kami baru sekitar 100 meter melintasi Gapura bertuliskan, “Kawasan Minopolitan.”  Perjalanan hari itu adalah dalam rangka ekspedisi memenuhi kebutuhan tulisan untuk Tabloid Trang.

“Pante Peusangan.” Kami mencoba untuk menyebut nama gampongnya (desa)

“Ooo! Kalau begitu adik-adik ini harus berbalik arah kembali. Nanti belok saja ke arah kanan dekat gapura.” 

Saat itu kami memasuki wilayah Jangka melalui pusat kota Matangglumpangdua. Untuk sampai ke Pante Peusangan dari tempat kami bertanya, kami hanya harus menempuh jarak sekitar 2 kilometer lagi. Kami pun harus sedikit hati-hati saat melintasi jalan utama gampong karena beberapa ruas jalan telah berlobang.   

Habib Bugak Al-‘Asyi sebenarnya kian terkenal sejak para jamaah haji asal Aceh setiap tahun mendapatkan uang dari Baitul Asyi sekitar Rp2.500.000 setiap jamaahnya. Terlepas dari perdebatan soal silsilah dan siapa sebenarnya Habib Bugak Al-‘Asyi, pengalaman kami di atas setidaknya sedikit memberi gambaran bahwa Habib Bugak Al-Asyi ternyata masih kurang dikenal oleh masyarakat Aceh secara umum. Kecuali oleh mereka yang pernah berhaji ke Mekkah atau mereka-mereka yang peduli dengan sejarah Aceh.  

Filum Mollusca, Cot Gapu dan Riwayat Kapal Portugis




Kapal Nek Musa. Mungkin ini sedikit asing bagi kita. Tapi kalau itu ditanyakan kepada warga Kuala Raja, hampir semuanya tau akan hal itu. Berawal dari onggokan kapal zaman dahulu yang tertambat di bibir pantai, menjelma menjadi cerita yang melegenda. Keberadaan kapal yang kini hanya berupa besi tua di pantai Kuala Raja itu adalah nyata, tapi asal muasalnya masih menjadi misteri hingga saat ini.

Namun, beberapa warga yang ditanyai, mulai dari tokoh pemuda, sesepuh masyarakat hingga keuchik, semuanya sepakat bahwa bangkai kapal itu bukanlah milik Kerajaan Jeumpa, mengingat kapal tersebut terbuat dari besi.

Keuchik Kuala Raja, M Isa M Amin yang kini berusia 43 tahun mengatakan, berdasarkan penuturan buyutnya dulu, awalnya kapal itu ditemukan di tanah kebun milik Nek Musa, makanya kemudian kapal itu dinamai kapal Nek Musa. Tapi karena tergerus abrasi, tanah kebun Nek Musa kemudian menjadi bagian dari pantai Kuala Raja. Seperti yang saat ini bisa disaksikan oleh masyarakat umum.

Kapal itu sendiri menggunakan mesin penggerak yang dihasilkan dari tenaga uap. Hal ini dibuktikan dengan adanya perapian yang juga terbuat dari besi. Itupun juga masih bisa disaksikan hingga saat ini. Jadi kecil kemungkinan kapal tersebut adalah peninggalan Kerajaan Jeumpa.

“Terkaan kami adalah kapal milik Portugis.”

Cerita lainnya yang tak kalah melegenda dituturkan Tgk. Hanafiah yang berusia lebih dari 60 tahun. Menurut dia, dahulu kala, berdasarkan penuturan orang berilmu, daratan Kuala Raja adalah lautan lepas, sementara bibir pantai berada di Cot Gapu sekarang ini. Atau berjarak sekitar 4 kilometer dari Kuala Raja.

Bukti bahwa Cot Gapu lah dulu bagian dari pantai dibuktikan dengan terdapatnya cangkang tiram di bawah lapisan tanah. Cangkang tiram sendiri adalah bagian dari kelompok hewan laut yang bertubuh lunak dan memiliki cangkang atau dalam ilmu biologi tergolong ke dalam filum mollusca.

Jadi, onggokan kapal besar itu, menurut penuturan Tgk. Hanafiah, mengutip cerita turun temurun dari buyutnya, pada awalnya berada di tengah lautan lepas. Kapal tersebut kandas saat mengarungi lautan lepas.

Tapi lambat laun, lautan itu membentuk daratan hingga kapal tersebut berada di tanah kebun yang kemudian menjadi milik Nek Musa.  Namun, tidak diketahui pada zaman apa Nek Musa hidup. Ataupun cerita ini hanya sebuah legenda.

Kalau mendengar penuturan orangtua dulu, kapal itu diperkirakan telah berada di sana dalam hitungan lima kali ganti generasi. Kalau umur orang zaman dahulu ditaksir 100 tahun, ungkap Tgk. Hanafiah, maka keberadaannya di sana diperkirakan telah mencapai 500 tahun.  

Disisi lain, konon katanya, seiring dengan perputaran waktu, kondisi itu akan kembali berbalik hingga pada saatnya bibir pantai sampai lagi ke Cot Gapu.

“Soal kapan itu akan terjadi kita tak akan pernah tau.”

Cerita lain dituturkan Tgk. Khairil, tokoh pemuda yang juga seorang Peutuha Kuala Raja. Ia menuturkan, pernah datang orang dari luar negeri yang awalnya sangat berkeinginan membeli onggokan besi dari kapal itu dengan nilai ratusan juta rupiah. Keinginan itu disampaikan kepada Peutuha gampong.

Tapi meski sudah berupa onggokan besi, kapal itu tidak dijual, dan orang dari luar negeri itupun juga tidak pernah datang lagi.

“Ini adalah sejarah. Meski asal muasalnya masih misteri dan butuh penelitian lebih lanjut.”(mardani malemi)



------ Keterangan foto: Onggokan bangkai kapal yang diduga milik Portugis di Kuala Raja, Bireuen. 

Mohon maaf!

Blog ini msh dlm tahap perbaikan. Memberi warna baru utk kembali bersemangat menulis. Jadi mhn maaf bila menemukan ketidaknyaman. Terutama utk beberapa akses link.

Tq

Sebuah Legenda dari Batee Raya





Hari itu sekitar tahun 1832 Masehi. Beberapa orang yang diperkirakan asal Peusangan tertegun dengan sebuah batu besar yang memiliki tinggi hingga 8 meter lebih dan berdiameter (keliling) 30 meter.   

Orang-orang asal Peusangan ini diperkirakan adalah orang pertama yang membuka areal pemukiman penduduk di gampong yang kemudian dikenal dengan nama Gampong Batee Raya, Kecamatan Juli, Bireuen.  

“Buyut kami sejak dulu menceritakan bahwa batee (batu) itu sudah besar segitu,” tutur Abdul Hadi, Keurani (Sekretaris) Gampong Batee Raya. Abdul Hadi adalah pemilik tanah yang berhadapan langsung dengan petapakan Batee Raya.