TEUNGKUMALEMI

Senyuman suatu pertanda...

KUROK-KUROK (BUNKER)

Bunker peninggalan Jepang di Cot Goh Ban Bireuen.

KAPAL PORTUGIS

Onggokan kapal yang diduga milik Portugis di Kuala Raja Bireuen.

NASKAH

Abu Tumin, ulama kharismatik Aceh memberi masukan atas naskah tulisan saya.

TU MUHYEN

Keturunan ketujuh dari Tgk. Syik Awe Geutah.

Kaji Ulang Kisah Raja Jeumpa dan Asal Muasal Bireuen

Artefak Kerajaan Jeumpa. 
Menilik sejarah dan asal usul Kabupaten Bireuen rasanya tidak akan membuat kita bosan. Meski beragam literatur telah disajikan. Memasuki usia ke-15, saya melihat tidak ada salahnya bila kita mengulang kaji kembali sejarah itu.
Mungkin diantara kita telah banyak membaca berbagai literatur akademis tentang Kerajaan Jeumpa yang sering disebut sebagai asal muasal kabupaten ini. Bireuen yang dulunya lebih dikenal dengan nama Jeumpa.
Tapi pada tulisan kali ini, penulis mengajak pembaca untuk melihat dan menjumpai langsung salah satu saksi sejarah yang disebut-sebut punya ikatan silsilah langsung dengan keturunan Raja Jeumpa.
Ia adalah Muhammad Daud M. Thaib (72) atau sering disapa Bang Ulee Cot. Sebutan itu karena tempat tinggalnya berada persis di pinggir bukit (bahasa Aceh: cot) dengan ketinggian sekitar 10 meter. Di atas bukit itu adalah tempat bersemayamnya jenazah Tgk. Cot Cibrek.  

Muhammad Daud kini mendiami rumah bantuan Pemerintah Aceh bertipe 36 plus. Bantuan yang layak diberikan untuk seorang di antara ahli waris Raja Jeumpa. Ya, menurut pengakuan Muhammad Daud, ia adalah keturunan ke-9 dari Raja Jeumpa. Kepada kami, ia hanya ingat empat urutan silsilah di atasnya, yaitu: ayahnya M Taib, kemudian di atasnya berturut-turut: Peutua Hanafiah, Keuchik Ben Cut, dan Keujruen Sarah. Keujruen Sarah inilah yang diyakini mempunyai hubungan darah dengan Raja Jeumpa. 

Ia juga sempat bercerita sedikit tentang sejarah Raja Jeumpa. Dalam ceritanya ia menyebutkan kisah di tahun di tahun 2006, setahun setelah perdamaian Aceh. Saat itu pemuda asal Cirebon datang menemuinya. Setelah menyatakan maksudnya, ia kemudian diantar ke makam Raja Jeumpa. Di sanalah ia melazkan ayat kelima dari Surah Al-Fatihah. 
Iyya ka na’budu wa iyya ka nasta’in. “Engkaulah yang kami sembah, dan Engkaulah tempat kami memohon pertolongan.“ (QS. 1 : 5). 
“Pemuda itu meyakini inilah ayat dari surah yang menyelamatkan Aceh dan kehidupan umat manusia,” tutur Muhammad Daud menirukan ucapan pemuda asal Cirebon kepadanya. “Kita bersaudara, tapi selama ini seakan begitu jauh. Pak Cik, pesan saya, kita harus mengamalkannya dengan ikhlas agar Aceh tetap damai.” 

Saya juga sempat mendatangi makam Raja Jeumpa di Dusun Tgk. Keujruen. Areal makam yang telah dipagari besi dengan pondasi beton berwarna orange itu sekilas terasa asing bagi yang belum terbiasa. Kami sendiri saat sampai di depan makam yang kini berupa bukit dengan ketinggian sekitar 30 meter itu juga merasakan hal demikian. Apalagi dengan pohon-pohon besar nan rindang berumur ratusan tahun yang tumbuh di atasnya. Makam Raja Jeumpa itu sendiri kini hanya bisa ditandai dengan batu-batu besar yang ada di bukit tersebut.
 
Dalam ikhtisar Radja Jeumpa yang di tulis Ibrahim Abduh –disadurnya dari hikayat Radja Jeumpa— disebutkan, Kerajaan Islam Jeumpa sudah berdiri sejak sekitar abad ke-7 Masehi yang terletak di sekitar daerah perbukitan, mulai dari pinggir sungai Peudada di sebelah barat sampai Pante Krueng Peusangan di sebelah timur. 

Istana Raja Jeumpa terletak di Gampong Blang Seupeueng yang dipagari di sebelah utara. Itu artinya telah menempatkan Kerajaan Islam Jeumpa sebagai kerajaan Islam pertama di nusantara. Jauh sebelum Kerajaan Samudra Pasai berdiri. 

Namun, dalam catatan sejarah lainnya disebutkan, Kerajaan Islam Jeumpa baru berdiri sekitar abad ke-13, saat sebagian besar penduduk dan Raja Kerajaan Melayu Islam Champa di Vietnam bermigrasi ke Aceh karena diserang oleh Kerajaan China. 

Kedatangan Raja Champa pada waktu itu (abad ke-13) disambut dengan hangat oleh pihak Kerajaan Pasai. Atas izin Raja Pasai pula kemudian Raja Champa mendirikan Kerajaan Jeumpa. 

Dalam riwayat Raja Jeumpa (Sejarah Kegemilangan, Kemakmuran dan Kemajuan Kerajaan Jeumpa 14 Abad Silam) yang terpampang di dinding di dalam meunasah Blang Seupeng ditulis: Kabupaten Bireuen dalam catatan sejarah dikenal sebagai daerah Jeumpa. Dahulu Jeumpa merupakan sebuah kerajaan kecil di Aceh, terletak di di Desa Blang Seupeung, merupakan permukiman padat penduduk dengan Bandar Pelabuhan Besar yang terletak di Kuala Jeumpa. 

Pada awal tahun 1989 dua pemuda Cina, laki – laki dan perempuan mengunjungi makan Raja Jeumpa, kepada sesepuh desa mereka mengatakan berasal dari Indo Cina, Kamboja. Mereka sengaja datang ke lokasi kerajaan Jeumpa untuk mencari tongkat nenek moyangnya zaman dahulu. Konon tongkat emas Raja Cina tersebut jatuh dan hilang saat menyerbu kerajaan Jeumpa, yang kemudian ditemukan oleh Raja Jeumpa.

Kerajaan Jeumpa pernah diperangi oleh pasukan Cina, Thailand dan Kamboja. Mereka pernah menduduki benteng Blang Seupeueng. Disebutkan, peperangan tersebut terjadi karena Raja Cina menculik permaisuri Raja Jeumpa yang cantik jelita, Meureudom Ratna.

Permaisuri Raja Jeumpa itu berhasil mereka bawa kabur sampai ke Pahang (Malaysia). Namun kemudian Meureudoem Ratna berhasil dibawa kembali ke Blang Seupeueng. Setelah Panglima Prang Raja Kera yang berasal dari Ulee Kareung, Samalanga berhasil mengalahkan Raja Cina.

Makam Raja tersebut hanya ditandai dengan batu-batu besar yang berlokasi di dusun Tgk Keujruen, Desa Blang Seupeueng. Sedangkan makam isterinya, Maureudom Ratna, berada di Desa Kuala Jeumpa.

Raja Jeumpa adalah putra dari Abdullah dan Ratna Kumala, beliau dinobatkan menjadi Raja dan Ratna Keumala sebagai permaisuri di Negeri Blang Seupeung tersebut. Raja Abdullah kemudian menamakan Negeri yang dipimpinnya itu dengan nama “Jeumpa” sesuai dengan nama Negeri asalnya yang bernama “Kampia”, yang artinya harum.

Raja Abdullah mengatur strategi keamanan Kerajaan dengan mengadakan latihan perang bagi angkatan darat dan laut. Saat itu angkatan laut merupakan angkatan perang yang cukup diandalkan, yang dipimpin oleh seorang Laksamana Muda.

Raja Abdullah meninggal dunia dengan meninggalkan seorang istri dan dua orang anak, yaitu Siti Geulima dan Raja Jeumpa. Setelah Raja Jeumpa dewasa dia membangun benteng pertahanan di tepi Pantai Laksamana. Raja Jeumpa kemudian memperistri seorang putri anak Raja Muda yang Cantik Jelita bernama Meureundom Ratna dari Negeri Indra. Menurut catatan sejarah, Meureudom Ratna masih ada hubungan keluarga dengan Putri Bungsu.

Kakak Raja Jeumpa, Siti Geulima dipinang oleh seorang Raja di Darul Aman yang bernama Raja Bujang. Maka atas dasar perkawinan itu antara Kerajaan Jeumpa dengan Darul Aman  terjalin hubungan lebih erat. Sesuai dengan namanya “Darul Aman” yakni negeri yang aman sentosa.

Abad ke-13
Muhammad Daud meyakini Kerajaan Jeumpa berdiri pada abad ke-13. Hal itupula yang kami lihat di papan yang terpangpang di dalam meunasah Gampong Blang Seupeung. 

Sebenarnya, menurut pengakuan Muhammad Daud, keluarga mereka memiliki arakata Kerajaan Jeumpa. Arakata yang ditulis dalam huruf jawi itu mulanya disimpan oleh saudara Muhammad Daud, Imum Syik Muhammad Saleh. Namun, hilang saat konflik Aceh. “Ia (Imum Syik Muhammad Saleh, Red) adalah mantan aktivis GAM,” ujarnya. 

Pembicaraan kami kemudian berlanjut pada sisa-sisa artefak (penginggalan sejarah) yang mungkin masih tersisa dari Kerajaan Jeumpa. Ditemani isteri dan cucunya, Muhammad Daud kemudian bercerita tentang beberapa temuan saat salah satu bukit di sisi rumah mereka menetap sekarang di keruk dengan alat berat. 

“Ada pecahan kaca yang mungkin adalah piring atau peralatan/hiasan lainnya,” ujar Muhammad Daud. Saat diperlihatkan oleh isterinya kepada kami, sekilas benda berwarna putih bening sebesar telapak tangan orang dewasa itu berbentuk batu. Tapi, kalau sudah dipegang, sangat terasa ketajamannya. Benda itu sendiri kini memang tak benbentuk lagi. Ia layaknya bongkahan biasa.   

Muhammad Daud pun tak mempersoalkan bila ada yang mengatakan itu adalah bongkahan batu biasa. Namun, ia tetap meyakini bahwa itu adalah bukti bahwa Blang Seupeung dulunya adalah pusat (bandar) Kerajaan Jeumpa dengan penduduknya yang sangat padat. 

Ia menyebut, benda-benda seperti itu banyak ditemukan saat pengerukan bukit. Namun, karena minimnya pemahaman warga akan sejarah nenek moyangnya dulu, membuat benda-benda seperti itu dibiarkan begitu saja. “Malah kami juga menemukan karung-karung beras yang sudah hitam,” pungkasnya. “Tapi, nasibnya juga sama.” 

Hasil observasi dari peneliti lain sebelumnya malah telah menemukan beragam artefak lainnya, seperti kolam mandi kerajaan seluas 20 x 20 m, kaca jendela, porselin dan juga ditemukan semacam cincin dan kalung rantai yang panjangnya sampai ke lutut dan anting sebesar gelang tangan. Artefak itu ditemukan di dekat makam Raja Jeumpa.

Dasar Hukum
Berdasarkan data dari www.kemendagri.go.id disebutkan, Kabupaten Bireuen terbentuk berdasarkan Undang-undang Nomor 48 Tahun 1999 dan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2000 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 48 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kabupaten Bireuen dan Kabupaten Simeulue (Lembar Negara Tahun2000 Nomor 75, Tambahan Lembar Negara Nomor 3963). 

Kabupaten ini memiliki Luas wilayah 1.901,21 Km2. Pada Tahun 2006, secara administratif Kabupaten Bireuen ini terdiri dari 17 Kecamatan , 70 Mukim serta 559 Desa dan 2 Kelurahan. Jumlah penduduk pada Tahun 2006 sebanyak 354.763 jiwa yang terdiri dari 174.258 laki-laki dan 180.505 perempuan dengan rasio jenis kelamin sebesar 0,97 atau dengan kata lain pada setiap seratus penduduk perempuan terdapat 97 orang.

Rata-rata kepadatan penduduk untuk setiap kilometer persegi adalah 187 jiwa. Kecamatan yang memiliki kepadatan penduduk yang terendah adalah Pandrah 83 jiwa perkilometer persegi sedangkan kepadatan yang tertinggi terdapat di Kecamatan Peusangan yang mencapai 43.625 jiwa perkilometer persegi dan hampir seluruh penduduk Kabupaten Bireuen beragama Islam yakni mencapai 99,58 persen.

Asal Muasal Nama

[pullquote_left]Bireuen itu berasal dari Bahasa Arab yaitu asal katanya Birrun, artinya kebajikan, dan yang memberikan nama itu juga orang Arab pada saat Belanda masih berada di Aceh[/pullquote_left]

Beragam asal usul nama Bireuen memang pernah diungkapkan oleh berbagai tokoh. Namun, Tgk. Sarong yang pernah menjadi komandan pertempuran Medan Area tahun 1946, yang saat itu diberi gelar Kowera (Komandan Perang Medan Area) sebagaimana ditulis di Narit yang dipost ulang di seputaraceh.com mengungkapkan, Bireuen itu berasal dari Bahasa Arab yaitu asal katanya Birrun, artinya kebajikan, dan yang memberikan nama itu juga orang Arab pada saat Belanda masih berada di Aceh.

Kala itu, orang Arab yang berada di Aceh mengadakan kenduri di Meuligoe Bupati sekarang. Saat itu, orang Arab pindahan dari Desa Pante Gajah, Peusangan, lalu mereka mengadakan kenduri. Kenduri itu merupakan kebajikan saat menjamu pasukan Belanda. Orang Arab menyebut kenduri itu Birrun. Sejak saat itulah nama Bireuen mulai dikenal.


Tgk. Sarong juga mengungkapkan, sebelum Bireuen jadi nama Kota Bireuen yang sekarang ini, dulu namanya Cot Hagu. Setelah peristiwa itulah, nama Cot Hagu menjadi nama Bireuen. Wallahua’lam bissawab. (*)

Bunker, Kegalauan Jepang & Kisah Pakaian Goni

Bunker peninggalan Jepang. 
Malam itu tahun 1983. Tanggal dan hari yang tidak diingat lagi oleh Jufri Husein, 56, warga Bireuen Meunasah Dayah, Kota Juang, Kabupaten Bireuen. Jufri bermimpi tentang ranjang emas di dalam sebuah kolam. 

Rasa penasaran tak bisa disembunyikannya. Ia lalu bertanya kepada warga sekitar apakah ada sejenis bunker (orang Aceh menyebutnya: kurok-kurok) di sekitar kampung. Jufri bukanlah warga asli Bireuen Meunasah Dayah. Ia asli Pandrah. Sebuah kecamatan di ujung Barat kabupaten yang sama. Ia baru saja menetap di sana.

Informasi tentang sebuah bunker yang pernah dijadikan tempat persembunyian Jepang kemudian diperoleh Jufri. Tapi selama itu belum ada yang berani turun ke sana.

“Hewan ternak yang tersesat ke sana saja tidak pernah kembali lagi,” kata Jufri kepada tim ekspedisi Tabloid Trang suatu sore di bulan Mei 2013. Pernyataan Jufri itu mengutip kata-kata orang tua kampung.

Tapi ia kemudian memberanikan diri juga untuk turun ke sana. Mengajak dua pemuda kampung. “Ada banyak kelelawar saat pertama kali kami turun ke bunker,” ujarnya. “Alhamdulillah kami selamat.”  

Bunker itu sejatinya berada di pinggir jurang sebelah Barat sirkuit Cot Gon Bhan yang berada di atas bukit berkarang. Sekitar 2 kilometer (Km) dari Simpang Meunasah Blang (atau: simpang depan SPBU Reuleut).

Tapi adakah ranjang emas seperti di mimpinya? “Kami menemukan empat mortil. Tidak ada ranjang emas.”

Mortil itu kemudian coba diledakkan oleh Jufri di bawah tumpukan jerami. Ia dan dua pemuda kampung kemudian bersembunyi di balik pematang sawah untuk menghindari ledakan. Tapi api yang membakar jerami ternyata tak membuat mortil meledak. “Ternyata hulu ledak yang diduga peninggalan Jepang itu tak lagi aktif,” sebut Jufri.

Bunker itu berawal pada masa penjajahan Jepang, saat kerja Romusa diterapkan. Berdasarkan penuturan orang-orang zaman dulu, Jepang sengaja mendatangkan orang-orang luar Aceh (sebagian menyebutnya asal Jawa) untuk membuat bunker tersebut.

“Itu karena Jepang tak bisa sepenuhnya menaklukkan Aceh. Muncul kegalauan karena tak tau lagi cara bersembunyi yang aman.”

“Orang Aceh tetap tak bisa ditaklukkan, walau sekalipun seluruh pakaian dilucuti hingga harus menjadikan goni sebagai bahan pakaian,” ujarnya.

Goretan-goretan pahat jelas terlihat pada dinding-dinding bunker. Menandakan bahwa bunker tersebut bukanlah terbentuk secara alami. Melainkan hasil buatan manusia. Guratan pahatpun terlihat berbeda-beda. Ada yang sepertinya memakai pahat ukuran besar dan ada pula yang kecil.

Menurut penuturan Jufri, ada lima mulut bunker di bawah lapangan yang sekarang bernama Cot Gon Bhan itu. Tanah yang kini juga telah menjadi hak milik seorang warga Bireuen. Yang spesial, kata Jufri dan tim ekspedisi Tabloid Trang adalah bunker pertama. Panjangnya ditaksir mencapai 300 meter dengan tiga lorong yang dimilikinya. Lebar lorong-lorong itu sekitar 1 meter dengan ketinggian tak mencapai 170 meter. Tim ekspedisi Trang saja sampai harus sedikit membungkukkan tubuhnya saat memasuki bunker itu. Sementara tiga kamar yang berada di tiap lorong berukuran 3x3 meter.

“Ini tempat persembunyian paling aman pada masanya,” tutur Jufri.

Penuturan Jufri cukup masuk akal karena bunker itu berada di bawah bukit dengan tekstur tanah di atasnya yang berupa karang cukup keras. Hingga akar-akar pohon besar saja tak cukup kuat untuk menembusinya. 

“Jadi bila ditembak dari arah mana saja oleh musuh tak mungkin bisa mencapai sasaran.”

Cerita lain ikut berkembang dalam obrolan kami sore itu di sebuah warung kopi. “Dulu sempat tersiar kabar kalau maling hewan ternak sering menyembunyikan hasil curiannya di sini.”

Kabar itupun bisa saja benar. Tim ekspedisi Tabloid Trang sempat melihat tengkorak hewan ternak di sekitar bunker. Begitu pula dengan sebuah kasur yang masih tergeletak begitu saja di dalamnya. Terapung di atas air. Kasur itu bisa dipastikan bukan peninggalan Jepang. Melainkan sebuah kasur dengan jenis spring bed tipis 3 kaki.

Cerita dan pengalaman orang tentu saja boleh berkembang soal bunker tersebut.

“Yang perlu dipahami bahwa ini adalah sejarah. Orang luar (asing) malah membuat sejarah dari tidak ada menjadi ada.” Abu Ryan Djuli, seorang pekerja seni dan budaya asal Bireuen yang ikut dalam ekspedisi besama kami hari itu, ikut menimpali.

“Pemerintah saja tentu sulit. Hanya mengandalkan kepedulian masyarakat pun susah. Di sinilah peran bersama dibutuhkan. Pemerintah dan masyarakat.”   

Kalimat itu seperti mewakili kegelisahannya terhadap banyak situs sejarah yang masih kurang mendapat perhatian kita bersama. (*)

Habib Zainon (112 Th.): Habib Bugak adalah…



Habib Zainon

Apa kata Said Zainal Abidin yang kami temui di Gampong Pante Peusangan? Berikut kutipan wawancaranya (wawancara berlangsung dalam bahasa Aceh):

Siapa Habib Bugak menurut Habib Zainon?
Habib Bugak adalah Habib Muhammad. Beliau berasal dari tanah Arab. Datang kemari tujuannya untuk berdagang.Lama kelamaan menetap di sini dan akhirnya menikahi seorang wanita. Juga di isini. Pernah suatu saat setelah menikah beliau kembali ke Arab untuk mewakafkan tanahnya di sana. Kemudian kembali lagi kemari.

Habib masih ingat dengan siapa Habib Muhammad menikah?
Habib Muhammad menikah dengan Cut Bungsu dan Cut Bunthok. Dari Cut Bungsu lahir Cut Syarifah Manyak, ibu saya. Cut Syarifah Manyak menikah dengan Habib Ali.Tapi Helmi (maksudnya: Hilmy Bakar)kemudian menulis bahwa Habib Bugak Al-‘Asyi itu adalah Habib Abdurrahman Monklayu. Padahal saat Habib Abdurrahman masih hidup beliau berharap seandainya kelak meninggal jenazahnya dapat disemayamkan di samping makam Habib Muhammad karena keduanya perantauan dari Arab.

Habib Bugak Dalam Kajian Hilmy Bakar



Siapa sebenarnya Habib Bugak belum ada data otentik tentang itu dan masih menjadi kajian oleh beberapa pemerhati sejarah, meski Hilmy Bakar bersama Tim Red Crescent-nya telah melakukan serangkaian penelitian pada tahun 2007 dan menyajikan data-data sejarah secara ilmiah. 

Dalam tulisan yang dipublikasikannya, Hilmy memberi kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan Habib Bugak Al-‘Asyi adalah Habib Abdurrahman Bin Alwi Al-Habsyi. Hilmy menulis, “…Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi adalah seorang yang pertama membuka Bugak dan memiliki kedudukan terhormat sebagai wakil Sultan. Hal ini diperkuat  dokumen yang dikeluarkan Sultan Mansyur Syah bertahun 1270 H yang menyebutkan dengan terang nama Habib Abdurrahman dengan Bugak.”

Inilah Makam Pewakaf Baitul 'Asyi Jamaah Haji Aceh di Mekkah



Pusara Habib Bugak. Repro: Najib. Z/Trang


“Maaf Teungku, arah ke gampong tempat makamnya Habib Bugak Al-‘Asyi ke mana ya?” Pemuda berumur sekitar 40-an yang kami tanyai itu sedikit bingung. 

Bertanya ke sesamanya yang sama-sama sedang asyik menyerumput kopi. Hari itu, Sabtu (13/10/2013) sekitar pukul 16.00 Wib, kami baru sekitar 100 meter melintasi Gapura bertuliskan, “Kawasan Minopolitan.”  Perjalanan hari itu adalah dalam rangka ekspedisi memenuhi kebutuhan tulisan untuk Tabloid Trang.

“Pante Peusangan.” Kami mencoba untuk menyebut nama gampongnya (desa)

“Ooo! Kalau begitu adik-adik ini harus berbalik arah kembali. Nanti belok saja ke arah kanan dekat gapura.” 

Saat itu kami memasuki wilayah Jangka melalui pusat kota Matangglumpangdua. Untuk sampai ke Pante Peusangan dari tempat kami bertanya, kami hanya harus menempuh jarak sekitar 2 kilometer lagi. Kami pun harus sedikit hati-hati saat melintasi jalan utama gampong karena beberapa ruas jalan telah berlobang.   

Habib Bugak Al-‘Asyi sebenarnya kian terkenal sejak para jamaah haji asal Aceh setiap tahun mendapatkan uang dari Baitul Asyi sekitar Rp2.500.000 setiap jamaahnya. Terlepas dari perdebatan soal silsilah dan siapa sebenarnya Habib Bugak Al-‘Asyi, pengalaman kami di atas setidaknya sedikit memberi gambaran bahwa Habib Bugak Al-Asyi ternyata masih kurang dikenal oleh masyarakat Aceh secara umum. Kecuali oleh mereka yang pernah berhaji ke Mekkah atau mereka-mereka yang peduli dengan sejarah Aceh.  

Filum Mollusca, Cot Gapu dan Riwayat Kapal Portugis




Kapal Nek Musa. Mungkin ini sedikit asing bagi kita. Tapi kalau itu ditanyakan kepada warga Kuala Raja, hampir semuanya tau akan hal itu. Berawal dari onggokan kapal zaman dahulu yang tertambat di bibir pantai, menjelma menjadi cerita yang melegenda. Keberadaan kapal yang kini hanya berupa besi tua di pantai Kuala Raja itu adalah nyata, tapi asal muasalnya masih menjadi misteri hingga saat ini.

Namun, beberapa warga yang ditanyai, mulai dari tokoh pemuda, sesepuh masyarakat hingga keuchik, semuanya sepakat bahwa bangkai kapal itu bukanlah milik Kerajaan Jeumpa, mengingat kapal tersebut terbuat dari besi.

Keuchik Kuala Raja, M Isa M Amin yang kini berusia 43 tahun mengatakan, berdasarkan penuturan buyutnya dulu, awalnya kapal itu ditemukan di tanah kebun milik Nek Musa, makanya kemudian kapal itu dinamai kapal Nek Musa. Tapi karena tergerus abrasi, tanah kebun Nek Musa kemudian menjadi bagian dari pantai Kuala Raja. Seperti yang saat ini bisa disaksikan oleh masyarakat umum.

Kapal itu sendiri menggunakan mesin penggerak yang dihasilkan dari tenaga uap. Hal ini dibuktikan dengan adanya perapian yang juga terbuat dari besi. Itupun juga masih bisa disaksikan hingga saat ini. Jadi kecil kemungkinan kapal tersebut adalah peninggalan Kerajaan Jeumpa.

“Terkaan kami adalah kapal milik Portugis.”

Cerita lainnya yang tak kalah melegenda dituturkan Tgk. Hanafiah yang berusia lebih dari 60 tahun. Menurut dia, dahulu kala, berdasarkan penuturan orang berilmu, daratan Kuala Raja adalah lautan lepas, sementara bibir pantai berada di Cot Gapu sekarang ini. Atau berjarak sekitar 4 kilometer dari Kuala Raja.

Bukti bahwa Cot Gapu lah dulu bagian dari pantai dibuktikan dengan terdapatnya cangkang tiram di bawah lapisan tanah. Cangkang tiram sendiri adalah bagian dari kelompok hewan laut yang bertubuh lunak dan memiliki cangkang atau dalam ilmu biologi tergolong ke dalam filum mollusca.

Jadi, onggokan kapal besar itu, menurut penuturan Tgk. Hanafiah, mengutip cerita turun temurun dari buyutnya, pada awalnya berada di tengah lautan lepas. Kapal tersebut kandas saat mengarungi lautan lepas.

Tapi lambat laun, lautan itu membentuk daratan hingga kapal tersebut berada di tanah kebun yang kemudian menjadi milik Nek Musa.  Namun, tidak diketahui pada zaman apa Nek Musa hidup. Ataupun cerita ini hanya sebuah legenda.

Kalau mendengar penuturan orangtua dulu, kapal itu diperkirakan telah berada di sana dalam hitungan lima kali ganti generasi. Kalau umur orang zaman dahulu ditaksir 100 tahun, ungkap Tgk. Hanafiah, maka keberadaannya di sana diperkirakan telah mencapai 500 tahun.  

Disisi lain, konon katanya, seiring dengan perputaran waktu, kondisi itu akan kembali berbalik hingga pada saatnya bibir pantai sampai lagi ke Cot Gapu.

“Soal kapan itu akan terjadi kita tak akan pernah tau.”

Cerita lain dituturkan Tgk. Khairil, tokoh pemuda yang juga seorang Peutuha Kuala Raja. Ia menuturkan, pernah datang orang dari luar negeri yang awalnya sangat berkeinginan membeli onggokan besi dari kapal itu dengan nilai ratusan juta rupiah. Keinginan itu disampaikan kepada Peutuha gampong.

Tapi meski sudah berupa onggokan besi, kapal itu tidak dijual, dan orang dari luar negeri itupun juga tidak pernah datang lagi.

“Ini adalah sejarah. Meski asal muasalnya masih misteri dan butuh penelitian lebih lanjut.”(mardani malemi)



------ Keterangan foto: Onggokan bangkai kapal yang diduga milik Portugis di Kuala Raja, Bireuen.